Tag Archives: Pitra Yadnya

Atha Sedhengira Mantuk

Atha sedhengira mantuk sang curalaga ringayun
Tucapa haji wirattan karyaca nangisi weka
Pinahajengira lawyan sang putrenalap iniwe
Padha litu hajeng anwan lwir kandarpa pinatelu

Lalu laranira naca sambat putranira pejah
Laki bi sira sumungkem ring putraluru kinusa
Ginamelira ginantikang lawyan lagi ginugah
Inutusira macabda kawajara bibi haji

Hana keleheng i kasih yan tunggal kita pejaha
Kita tiki kati galyus ndyanung panglipura lara
Syapa tiki palarengkwa muktyang raja sumiliha
Ri hilang tanayangkwa dungwang ywenaka pejaha

Na wuwusira masambat karwa strya pega malume
Inariwuwu tekap sang Cri Padwatmaja malara
Pinahayu kinabehan sampun purna rinuruban
Hinanyut i pajanging lek munggwing Pancaka gineseng

Kakawin Pitra Yadnya – Girica

Nglungah

Nglungah, kecuali upacara Pitra Yajna, baik mapendem maupun mageseng, seperti yang dilakukan terhadap sawa orang dewasa, maka terhadap sawa anak-anak pun disebut Pitra Yajna, karena yang diupacarai adalah arwah.

Untuk atiwa-tiwa bagi anak-anak, diatur sebagai berikut :

  1. Anak-anak setelah tanggal gigi sama dengan orang dewasa.
  2. Bagi bayi yang berumur dibawah tigang sasihan, dilakukan dengan mependem saja, tanpa upakara (tidak boleh digeseng)
  3. Bayi Rare dan bayi yang sebelum tanggal gigi, lalu meninggal dunia, kemudian berkeinginan mengadakan atiwa-tiwa maka upacara semacam itu disebut Nglungah

Adapun tata cara pelaksanaannya, adalah sebagai berikut :

  1. Piuning ke Pura Dalem, Bebantennya; Canang meraka, daksina, ketipat kelanan, telur bekasem, segehan putih kuning.
  2. Piuning ke Mrajapati, Bebanten; Canang, ketipat, daksina peras.
  3. Piuning ke Sedahan Setra, Bebanten; Canang meraka, ketipat kelanan.
  4. Piuning Bangbang Rare, Bebanten; Sorohan, pengamheyan, pengulapan, peras, daksina. Kelungah nyuh gading disurat Om Kara.

Banten kepada roh bayi : Bunga pudak, bangsah pinang, kereb sari, punjung dan banten bajang. Tirtha pangrapuh yang dimohon di Pura Dalem dan Mrajapati.

Setelah banten-banten tersebut diatas semuanya ditempatkan di atas gegumuk bangbang maka yang menjalankan upakara, mulailah memuja, untuk memohon kepada Bhatara/Bhatari, secepatnya roh bayu kembali suci.

Kemudian selesai memercikkan tirtha-tirtha semuanya diatas bangbang, maka bangbang un diratakan lagi, sehingga tidak tampak gegumuk lagi. Demikian pula bebanten-bebanten itu pun, ditimbun (dipendem). Sumber buku Rare Angon dan Catur Yajna oleh Jro Mangku Pulasari. (RANBB).

Cawa Wedana | Pitra Yadnya

Cawa Wedana merupakan bagian dari Pitra Yadnya. Cawa berarti jenazah; Wedana berarti pembersihan, penyucian, peleburan. Cawa Wedana mengandung pengertian Pembakaran jenazah (Cawa) agar kembali kepada Panca Maha Butha (lima unsur alam). Pelaksanaan Cawa Wedana meliputi pelaksanaan memandikan, pembersihan (penyucian), ngreka, ngringkes atau menggulung dan sebagainya, hampir sama dengan pelaksanaan Cawa yang akan dikuburkan, walaupun ada perbedaan yang khusus. Cawa yang dikuburkan setelah diupakarai dipendam di tanah sedangkan Cawa Wedana menguburkan di api (kremasi-pembakaran).

Pelaksanaan Cawa Wedana

Puja Pralina

Mayat dimandikan

Disuguhkan terpana

Mayat dibawa ke kuburan

Continue reading →