Category Archives: kesadaran diri

Bhagavadgita II.47

Karmany Evādhikāraste

Mā Phaleshu Kadācana

Mā Karma Phala Hetur Bhūr

Mā Te Sango`Stv Akarmaṇy

                        (Bhagavadgita II.47)

Kewajibanmu Kini Hanya Bertindak

Bekerja Tanpa Terikat Pada Hasil

Jangan Sekali Pahala Menjadi Motifmu

Jangan Pula –

Hanya Berdiam Diri Jadi Tujuanmu

Hidup itu Menunggu Kompor

Hidup itu menunggu kompor. Yach begitulah pepatah orang Bali. Sebuah pepatah yang penuh dengan makna yang sangat dalam bagi orang Bali. Kompor sebagai “finishing” badan kasar kita untuk kembali ke Panca Maha Butha. Maka orang Bali sangat bijaksana dalam menyikapi hidupnya sehari-hari, penuh dengan toleransi, kebahagiaan, ketulusan hati, kedermawanan, kesederhanaan, kesabaran, kesetiaan, karena mereka tahu persis bahwa sang jiwa dalam menuju ke alam Sorga hanyalah ditemani karma wacananya. Tidak ada harta benda duniawi yang akan dipanggulnya, tidak ada uang dalam dompetnya, tidak ada batu permata dalam jari-jemarinya, tidak dalam mobil mewah dalam perjalanannya,  termasuk badan kasarnyapun harus dikembalikan kepada Yang Maha Pemilik. Menjadi tugas kompor untuk memproses kembalinya Panca Maha Butha ke asalnya. Proses ini sering disebut Kremasi.

IMG_20160401_145901Dahulu, kompor ini dengan bahan bakar “lengis gas” (minyak tanah) yang tempatnya digantung diatas pohon agar bahan bakar dapat turun ke kompor dengan baik. Proses Kremasi di Bali semakin berkembang dari jaman-ke jaman, Teknologi dapat dengan mudah mempengaruhi kebiasaan orang Bali dalam melaksanakan upacara. Tetapi teknologi tidak mempengaruhi makna upacara keagamaan orang Bali. Seperti halnya kompor ini, yang saat ini menggunakan tabung, mirip tabung gas, namun bahan bakarnya tetap sama yaitu “lengis gas” hanya saja tabung ini memiliki tekanan sehingga dapat mendorong minyak dalam tabung. Orang Bali memang pintar dan kreatif. Bahkan dibeberapa tempat saat ini telah lebih maju dalam proses Kremasi, yaitu menggunakan Oven, oven yang khusus untuk proses Kremasi Jenasah.

Setelah melihat Kompor ini, bagaimana perasaan Anda sebagai orang Bali ? Cepat atau lambat, semakin hari kematian semakin dekat, usia memiliki batas, usia milik Yang Maha Pemilik. Tak ada yang akan kita bawa dalam perjalanan menuju Sorga selain karma wacana, kaya atau miskin sama-sama di “finishing” oleh kompor ini. Reinkarnasi yang kita jalani saat ini merupakan kesempatan yang sangat baik untuk memperbanyak karma wacana yang baik dan sesuai dengan ajaran agama Hindu, Trikaya Parisudha, serta kitab-kitab suci tuntunan hidup lainnya. Semoga hidup kita bermanfaat bagi masyarakat, penuh dengan kedamaian, kesadaran jiwa, kebijaksanaan, keharmonisan, keindahan, yang semuanya akan kita gunakan untuk menciptakan Sorga dalam kehidupan yang akan datang. Tercapainya Sorga akan menuntun kita dalam mencapai Moksa. Om Swaha ……..

Para Dalang Memainkan Wayang

Dunia Politik itu seperti pementasan Wayang Kulit. Kita hanya menonton bayang-bayang yang dimainkan sang Dalang. Setiap Wayang memiliki peran tersendiri, walau dalam pakem Wayang Kulit yang aslinya, setiap Figur Wayang memiliki karakter dengan sendirinya. Lihatlah Figur Wayang kita, budaya Wayang Kulit yang kita banggakan dan perlu kita jaga kelestariannya. Namun dalam Dunia Politik, figur yang dimainkan sang Wayang sering berubah-ubah mengikuti irama hati sang Dalang. Mengikuti besar kecil nya “fulus” yang mengalir ke kantong sang Wayang. Dalang tetap menjadi pengendali dalam setiap gerak gerik sang Wayang. Dalang merupakan penggerak “mulut” sang Wayang. Sang Dalang lah yang memainkan “tarian politik” itu sementara kita hanya menonton sang Wayang dan mempercayainya.

Dalam pementasan Wayang Kulit, penonton terhanyut oleh kepiawaian permainan sang Dalang. Penonton bisa mencaci maki, menyumpah serapah pada tokoh Wayang tersebut, yang tidak berkenan di hati penonton, baik itu perilaku, omongan dan hasutan yang disampaikan sang Wayang. Ataupun sebaliknya, sang Wayang akan menjadi tokoh panutan, sumber ketawa, sebagai tokoh yang dibela mati-matian oleh sang penonton. Sang Dalang adalah pengembala pikiran penonton. Siapa Pengembala Pikiran sebenarnya ?

Dalang atau Wayang ?

Continue reading

RUANG BERNAPAS

Damai di Setiap Langkah. Kita mempunyai ruang untuk segala sesuatu – makan, tidur, menonton tv-, tetapi kita tidak mempunyai ruang untuk sati (penyadaran). Saya menganjurkan agar kita menyediakan ruang  kecil di rumah kita dan menamainya “ruang bernapas”, di mana kita bisa menyendiri dan hanya berlatih bernapas dan tersenyum,  paling tidak pada saat-saat sulit.

Ruang yang kecil itu harus dianggap sebagai Kedutaan Besar dari Kerajaan Kedamaian. Ia harus dihargai dan tidak diganggu dengan kemarahan, teriakan atau hal-hal semacam itu. Ketika seorang anak hampir dibentak, ia bisa berlindung di ruang itu. Baik ayah maupun ibu tidak bisa membentaknya lagi. Ia aman di dalam daerah Kedutaan Besar itu. Orangtua kadang-kadang juga perlu berlindung di ruang itu, duduk bernapas, tersenyum dan memulihkan diri mereka. Oleh karena itu, ruang tersebut digunakan untuk kebaikan seluruh  keluarga. Saya sarankan agar ruang bernapas itu ditata dengan sangat sederhana dan jangan terlalu terang. Anda mungkin ingin mempunyai sebuah genta kecil, dengan suara yang merdu.

Continue reading

Sorga Milik Siapa?

Sorga itu milik siapa? Setiap manusia mengidam-idamkan agar mendapatkan Sorga sesaat setelah ia mati. Sorga yang diketahui sebagai tempat yang indah, bagus, enak, nikmat, menyejukkan dan serba menyenangkan. Sorga menjadi tempat yang paling difavoritkan manusia di dunia ini. Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang menginginkan dalam kematiannya akan mendapat Neraka. Walaupun Sorga dan Neraka  merupakan dua tempat yang sangat populer dalam dunia ini. Sorga sebagai tujuan manusia lebih unggul dalam survey “Saat Kematian tiba, Anda mau mendapat Sorga atau Neraka? “

Lalu Sorga itu milik siapa? Apakah Sorga milik manusia yang beragama Hindu? Apakah Sorga milik manusia yang beragama Islam, Kristen, Katolik, Budha,Konghucu, Atheis, Penyembah Berhala ? Atau Apakah Sorga milik manusia yang selalu berbuat baik?  Apabila Sorga adalah milik manusia yang selalu berbuat baik, lalu untuk apa ada agama? atau, Bila Sorga hanya milik manusia yang beragama, lalu untuk apa manusia itu berbuat baik ? Baca Dharman Purushalakshanam

Continue reading

Sang Kawi

Sang Kawi artinya sang Pencipta. Ia adalah sebutan untuk Ida Sang Hyang Widhi, tapi juga untuk seorang pengarang (Jawa Kuna),  pengarang karya sastra kakawin. Banyak karya sastra yang lahir dari tangan para Kawi itu, mulai dari kakawin Ramayana, Arjunawiwaha, Bharatayudha, Hariwangsa, Gatotkacasraya, Semaradhana, Sutasoma, Arjunawijaya, Bhomantaka, Siwaratrikalpa, Nagarakretagama dan sebagainya.

Dan Sang Kawi bernama Yogiswara, Mpu Sedah, Mpu Panuluh, Mpu Kanwa, Mpu Dharmaja, Mpu Monaguna, Mpu Triguna, Mpu Tantular, Mpu Tanakung, Prapanca, Mpu Nirartha, dan yang lain, nama-nama penuh makna.

Sang Kawi adalah hamba keindahan, yang biasa berkeliling mencari Dewa Pujaannya itu (Istadewata). Ia mencarinya di pantai, di gunung, di hutan dan juga di dalam hatinya. Sang Dewa yang lalu dihadirkannya dan diistanakannya dalam padma hatinya dan juga dalam karya sastranya, dalam kalamnya dan juga dalam debu goresan kalamnya, dalam  bunga yang kesepian di tepi pantai, di pasir putih tepi pantai, dalam dengusan ombak membentur karang, dan di goa-goa larang itu sendiri …………..

Continue reading