Category Archives: moksa

Bersepeda Ke Pura Gunung Salak

Bersepeda Ke Pura Gunung Salak

Rabu, 14 Desember 2016. Merupakan hari yang membahagiakan bagi Saya. Bahagia dan Plong …. Menepati janji yang pernah diikrarkan dalam hati. Menunggu penuh kesabaran dari hari ke hari hingga tak terasa hingga tiga tahun lamanya, Janji yang pernah diikrarkan belum juga terlaksana. Hampir lupa akan janji itu…. Janji itu “Suatu saat Tiang ingin Nangkil ke Luhur dengan bersepeda” ( Saya Ingin Ke Pura Parahyangan Agung Jagatkartta / PAJK Gunung Salak dengan Bersepeda ). Sejatinya saya bukan Goweser seperti teman-teman seperjalanan yang lain, namun Janji tetaplah janji yang harus saya jalani dan penuhi. Hanya semangat dan mental yang membuat saya bisa menyelesaikan perjalanan ini. Tak sepenuhnya saya jalani dengan diatas sepeda (gowes), setiap tanjakan pada setengah perjalanan saya jalani dengan menuntun sepeda. Terutama setelah lepas dari pasar Ciampea, tanjakan terus dan menerus. Yang bisa saya gowes pastinya digowes kalo ga ya… dituntun saja.

img-20161214-wa0059

945855_10208415278399969_1770094467970609168_n

Pura di Jakarta dan Tangerang yang Saya telah Kunjungi sambil bersepeda dari rumah di Bintaro  adalah Pura Tamansari Halim Perdana Kusuma, Pura Amertha Jati Cinere, Pura Dharma Praja, Pura Agung Widya Mandala Lenteng Agung, Pura Agung Wira Dharma Samudra Cilandak, Pura Dharma Sidhi, Pura Parahyangan Jagat Guru BSD, Pura Mertha Sari Rempoa dan yang baru seminggu yang lalu Parahyangan Agung Jagatkartta Tamansari Gunung Salak Bogor yang berjarak 63 KM. Seperti dalam album foto di https://www.flickr.com/photos/dagang_tuak_bali/albums

Continue reading

Hidup itu Menunggu Kompor

Hidup itu menunggu kompor. Yach begitulah pepatah orang Bali. Sebuah pepatah yang penuh dengan makna yang sangat dalam bagi orang Bali. Kompor sebagai “finishing” badan kasar kita untuk kembali ke Panca Maha Butha. Maka orang Bali sangat bijaksana dalam menyikapi hidupnya sehari-hari, penuh dengan toleransi, kebahagiaan, ketulusan hati, kedermawanan, kesederhanaan, kesabaran, kesetiaan, karena mereka tahu persis bahwa sang jiwa dalam menuju ke alam Sorga hanyalah ditemani karma wacananya. Tidak ada harta benda duniawi yang akan dipanggulnya, tidak ada uang dalam dompetnya, tidak ada batu permata dalam jari-jemarinya, tidak dalam mobil mewah dalam perjalanannya,  termasuk badan kasarnyapun harus dikembalikan kepada Yang Maha Pemilik. Menjadi tugas kompor untuk memproses kembalinya Panca Maha Butha ke asalnya. Proses ini sering disebut Kremasi.

IMG_20160401_145901Dahulu, kompor ini dengan bahan bakar “lengis gas” (minyak tanah) yang tempatnya digantung diatas pohon agar bahan bakar dapat turun ke kompor dengan baik. Proses Kremasi di Bali semakin berkembang dari jaman-ke jaman, Teknologi dapat dengan mudah mempengaruhi kebiasaan orang Bali dalam melaksanakan upacara. Tetapi teknologi tidak mempengaruhi makna upacara keagamaan orang Bali. Seperti halnya kompor ini, yang saat ini menggunakan tabung, mirip tabung gas, namun bahan bakarnya tetap sama yaitu “lengis gas” hanya saja tabung ini memiliki tekanan sehingga dapat mendorong minyak dalam tabung. Orang Bali memang pintar dan kreatif. Bahkan dibeberapa tempat saat ini telah lebih maju dalam proses Kremasi, yaitu menggunakan Oven, oven yang khusus untuk proses Kremasi Jenasah.

Setelah melihat Kompor ini, bagaimana perasaan Anda sebagai orang Bali ? Cepat atau lambat, semakin hari kematian semakin dekat, usia memiliki batas, usia milik Yang Maha Pemilik. Tak ada yang akan kita bawa dalam perjalanan menuju Sorga selain karma wacana, kaya atau miskin sama-sama di “finishing” oleh kompor ini. Reinkarnasi yang kita jalani saat ini merupakan kesempatan yang sangat baik untuk memperbanyak karma wacana yang baik dan sesuai dengan ajaran agama Hindu, Trikaya Parisudha, serta kitab-kitab suci tuntunan hidup lainnya. Semoga hidup kita bermanfaat bagi masyarakat, penuh dengan kedamaian, kesadaran jiwa, kebijaksanaan, keharmonisan, keindahan, yang semuanya akan kita gunakan untuk menciptakan Sorga dalam kehidupan yang akan datang. Tercapainya Sorga akan menuntun kita dalam mencapai Moksa. Om Swaha ……..

Kematian, Karma dan Reinkarnasi

Maharsi Yajnavalkya, (800-500 BCE) adalah orang yang pertama kali merumuskan secara jelas tentang kematian, karma dan reinkarnasi di dalam Upanisad, khususnya Brhad-aranayaka. Tentang perjalan jiwa pada saat kematian sampai meninggalkan badan kasar dapat diringkas sebagai berikut :

Pertama. Seorang individu berhenti berfungsi di dalam dimensi fisik ketika jantungnya berhenti berdetak.

Kedua. Badan halus (sukma sarira), yang telah menyelesaikan tugasnya mencatat hasil-hasil dari tindakan di dalam hidup orang itu di dalam bentuk “bibit-bibit” karma, bergerak ke dalam jantung badan fisik (anahata chakra di dalam badan halus).

Ketiga. Jiwa memasuki badan halus dan satu cahaya bersinar dari puncak jantungnya. Baca Penyebab Dari Penderitaan.

Keempat. Jiwa melintas keluar badan kasar (stula sarira) melalui mata, atau ubun-ubun, atau bagian lain. Maksudnya ajna chakra, shasrara chakra, atau chakra lainya.

Kelima. Ketika jiwa meninggalkan badan kasar, kekuatan hidup (prana) ikut bersamanya. Veda menyatakan, “organ-organ kesadaran mengikuti jiwa.” Ini berarti bahwa pikiran yang bekerja dalam hubungan dengan fisik dan yang dalam dimensi badan halus meninggalkan badan fisik bersama jiwa. Ketika jiwa meninggalkan badan kasar, energi dan organ-organ kesadaran dari level-level yang lain pergi bersamanya.

Keenam. Jiwa sekarang dibatasi oleh pengetahuan dan tingkah lakunya di dalam kehidupan sebelumnya. Ini berarti karma-karma dari jiwa itu menentukan ke wilayah spiritual mana jiwa itu pergi, bagaimana ia akan hidup di sana dan kapan ia lahir kembali. Continue reading