Category Archives: Kesadaran Atma

RUANG BERNAPAS

Damai di Setiap Langkah. Kita mempunyai ruang untuk segala sesuatu – makan, tidur, menonton tv-, tetapi kita tidak mempunyai ruang untuk sati (penyadaran). Saya menganjurkan agar kita menyediakan ruang  kecil di rumah kita dan menamainya “ruang bernapas”, di mana kita bisa menyendiri dan hanya berlatih bernapas dan tersenyum,  paling tidak pada saat-saat sulit.

Ruang yang kecil itu harus dianggap sebagai Kedutaan Besar dari Kerajaan Kedamaian. Ia harus dihargai dan tidak diganggu dengan kemarahan, teriakan atau hal-hal semacam itu. Ketika seorang anak hampir dibentak, ia bisa berlindung di ruang itu. Baik ayah maupun ibu tidak bisa membentaknya lagi. Ia aman di dalam daerah Kedutaan Besar itu. Orangtua kadang-kadang juga perlu berlindung di ruang itu, duduk bernapas, tersenyum dan memulihkan diri mereka. Oleh karena itu, ruang tersebut digunakan untuk kebaikan seluruh  keluarga. Saya sarankan agar ruang bernapas itu ditata dengan sangat sederhana dan jangan terlalu terang. Anda mungkin ingin mempunyai sebuah genta kecil, dengan suara yang merdu.

Continue reading

Sloka Bhagawad Gita

Bhagavad-Gita-II-sloka-17

Bhagavad-Gita-II-sloka-17

Continue reading

Kematian, Karma dan Reinkarnasi

Maharsi Yajnavalkya, (800-500 BCE) adalah orang yang pertama kali merumuskan secara jelas tentang kematian, karma dan reinkarnasi di dalam Upanisad, khususnya Brhad-aranayaka. Tentang perjalan jiwa pada saat kematian sampai meninggalkan badan kasar dapat diringkas sebagai berikut :

Pertama. Seorang individu berhenti berfungsi di dalam dimensi fisik ketika jantungnya berhenti berdetak.

Kedua. Badan halus (sukma sarira), yang telah menyelesaikan tugasnya mencatat hasil-hasil dari tindakan di dalam hidup orang itu di dalam bentuk “bibit-bibit” karma, bergerak ke dalam jantung badan fisik (anahata chakra di dalam badan halus).

Ketiga. Jiwa memasuki badan halus dan satu cahaya bersinar dari puncak jantungnya. Baca Penyebab Dari Penderitaan.

Keempat. Jiwa melintas keluar badan kasar (stula sarira) melalui mata, atau ubun-ubun, atau bagian lain. Maksudnya ajna chakra, shasrara chakra, atau chakra lainya.

Kelima. Ketika jiwa meninggalkan badan kasar, kekuatan hidup (prana) ikut bersamanya. Veda menyatakan, “organ-organ kesadaran mengikuti jiwa.” Ini berarti bahwa pikiran yang bekerja dalam hubungan dengan fisik dan yang dalam dimensi badan halus meninggalkan badan fisik bersama jiwa. Ketika jiwa meninggalkan badan kasar, energi dan organ-organ kesadaran dari level-level yang lain pergi bersamanya.

Keenam. Jiwa sekarang dibatasi oleh pengetahuan dan tingkah lakunya di dalam kehidupan sebelumnya. Ini berarti karma-karma dari jiwa itu menentukan ke wilayah spiritual mana jiwa itu pergi, bagaimana ia akan hidup di sana dan kapan ia lahir kembali. Continue reading

Sorga Milik Siapa?

Sorga itu milik siapa? Setiap manusia mengidam-idamkan agar mendapatkan Sorga sesaat setelah ia mati. Sorga yang diketahui sebagai tempat yang indah, bagus, enak, nikmat, menyejukkan dan serba menyenangkan. Sorga menjadi tempat yang paling difavoritkan manusia di dunia ini. Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang menginginkan dalam kematiannya akan mendapat Neraka. Walaupun Sorga dan Neraka  merupakan dua tempat yang sangat populer dalam dunia ini. Sorga sebagai tujuan manusia lebih unggul dalam survey “Saat Kematian tiba, Anda mau mendapat Sorga atau Neraka? “

Lalu Sorga itu milik siapa? Apakah Sorga milik manusia yang beragama Hindu? Apakah Sorga milik manusia yang beragama Islam, Kristen, Katolik, Budha,Konghucu, Atheis, Penyembah Berhala ? Atau Apakah Sorga milik manusia yang selalu berbuat baik?  Apabila Sorga adalah milik manusia yang selalu berbuat baik, lalu untuk apa ada agama? atau, Bila Sorga hanya milik manusia yang beragama, lalu untuk apa manusia itu berbuat baik ? Baca Dharman Purushalakshanam

Continue reading

Gandhi The Man

“Saya bukanlah seorang visioner, Saya menyatakan diri sebagai seorang idealis praktis”

Nak Bali Belog dalam posting kali ini akan mengutip kata-kata indah penuh motivasi dari buku Gandhi The Man, Seorang pria yang mengubah dirinya demi dunia karya Eknath Easwaran. Semoga menjadi peneduh hati kita dan pemberi semangat Manusia di seluruh dunia dalam menjalani kehidupan ini.

“Tidak ada sedikitpun keraguan dalam diri saya bahwa pria atau wanita manapun mampu mencapai apa yang telah saya capai. Jika ia mau mengeluarkan usaha yang sama dan memelihara harapan serta keyakinan yang sama” Continue reading

Jangan Kau Habiskan Waktumu Memikirkan Agamaku

Jangan Kau Habiskan Waktumu Memikirkan Agamaku. Setiap insan yang lahir ke dunia tanpa agama, tanpa identitas. Seorang bayi yang dibuang oleh ibunya tidak tahu agama apa yang akan dianutnya. Akhirnya sang bayi terbuang besar dan menganut agama sang pemurah dan baik hati itu. Tak terpikir sedikitpun oleh sang pembuang, agama apa yang akan dianut oleh sang bayi yang ia lahirkan, demikian pula tidak terpikirkan oleh sang bayi agama apa yang akan dianutnya nanti. Agama yang menuntun pada kebenaran sejati. Baca Sumber dan Hakekat Kebenaran

Perjalanan Hidup Ini

Perjalanan Hidup Ini

Bayi yang terbuang dengan bayi yang memiliki ibu dan ayah tidak menganut agama saat ia dilahirkan, sang pemeliharalah yang menuntun ia untuk besar dan dewasa dengan ajaran-ajaran agama sang induk. Agamaku dan agamamu adalah sama-sama agama. Agamaku dan agamamu telah teruji ratusan bahkan ribuan tahun oleh umatnya. Agamaku dan agamamu hanya sebuah keyakinan hati manusia yang paling dalam akan kebesaran sang Pencipta. Agamaku dan agamamu merupakan tuntunan maha suci untuk umat manusia dalam mengarungi duniawi hanya sebatas usia hidupnya. Bayi yang terlahir hanya dengan Jiwa yang suci, yang akan memperbaiki Jiwanya kembali. Baca Kapan Jiwa Masuk ke Badan Bayi ?

Jangan kau habiskan waktumu untuk memikirkan agamaku. Waktu yang singkat ini tak cukup untuk memikirkan agama yang berusia ratusan bahkan ribuan tahun itu. Jangan kau habiskan waktumu untuk memikirkan agamaku. Agamaku dan agamamu adalah anugerah Tuhan Sang Maha Tahu. Baca Sejarah Kelahiran Agama Besar Dunia.

Continue reading

Lontar Kamoksan

LONTAR KAMOKSAN

Lontar Kamoksan ini berisi tentang cara-cara untuk mencapai tujuan hidup dengan melalui praktek-praktek/pelaksanaan ajian-ajian (mantra). Berbagai ajian-ajian ditawarkan dalam naskah lontar ini, dan apabila seseorang tersebut mampu menerapkan ajian tersebut maka akan tercapai apa yang dikehendakinya, baik itu Kawisesan maupun Kamoksan. Ajian-ajian yang terdapat dalam naskah ini memiliki nilai kesakralan tinggi. Hakikat ajian tersebut bersifat sangat rahasia dan tidak semua bisa mempraktekkannya sehingga memerlukan kesigapan, ketelitian, ketekunan dan ketajaman batin pembacanya. Oleh karena itu perlulah kiranya pembaca bila ingin mempraktekkan ajian-ajian ini dituntun oleh seorang guru agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Di dalam Lontar Kamoksan, ajian-ajian yang tergolong kawisesan antara lain Aji Sanghyang Wisesa, Aji Tutur Menget, Aji Palungguhan, Aji Pandawa, Aji Pagantungan Sih Pegating Tiga, Aji Palalangon, Aji Sanghyang Talaga Membeng, Aji Pagedongan, Aji Minaka Darma, Aji Sarira, Aji Wawadonan Titi Murti, Aji Sarining Kala Kalanangan, Aji Yata, Aji Pamuteran, Aji Sayu Rahina Sada, Aji Masun, Aji Wruhing Bapa Babu, Aji Tri Pamuteran, Aji Swakar, Aji Pamoran. Apabila seseorang mampu menerapkan ajian-ajian tersebut dengan baik dan benar, maka ia akan mempunyai banyak istri, menemukan kesukaan, kaya, berkuasa, mencapai sorga, ulung di medan perang, serta menjadi orang tampan.

Di dalam Lontar Kamoksan, ajian yang berhubungan dengan kamoksan antara lain Aji Kalepasan Ring Sarira, Aji Tuturira Sanghyang Kalepasan, Aji Wekasing Ujar, Aji Sanghyang Dharma, Aji Wekasing Aputih, Aji Dharma Kalepasan Kamoksan. Kamoksan atau Kalepasan mengacu pada makna terlepasnya Atma dari tubuh manusia untuk manunggal dengan Paramatma. Supaya Atma dengan mulus dapat melepas dari tubuh juga memerlukan pengetahuan spiritual khusus, baik dalam hal mengenal, mengetahui tanda-tanda, kapan waktu, maupun jalan yang akan ditempuh oleh Atma ketika melepas dari tubuh. Di dalam lontar Kamoksan, dijelaskan beberapa ajian atau ilmu tentang pelepasan Atma dari tubuh, antara lain Aji Pakekesing Pati, Aji Tengeraning Pati, Aji Wekasing Bhuwana, Aji Patyaning Tiga, Aji Patitisan, Aji Pakeker, Aji Pamancutan.

Di dalam Lontar Kamoksan dijelaskan bahwa moksa dapat dicapai melalui suatu tahapan spiritual, yang dimulai dengan memahami nama dewa, besarnya, warnanya, dan tempat bersemayam dewa tersebut. Dewa-dewa tersebut dikenali satu per satu secara bertahap, baik dalam posisi horisonta maupun vertical, sampai pada tataran tertinggi, yaitu “berada dalam diam”.

Baca Artikel Terkait :

Continue reading