Category Archives: Asta Dasa Parwa

Pengertian tentang Diksita, Wiku Dan Sadhaka

Pengertian tentang Diksita, Wiku atau Sadhaka

Menurut Pustaka Bhuwana Kosa bahwa kata sepadan dengan Diksita atau Sadhaka itu adalah Wiku. Wiku guna menunjukkan kewajiban dalam memelihara kesucian hati. Rsi mencerminkan kewajiban dalam memelihara sinar suci dalam dirinya. Yogiswara menunjukkan bahwa dia mampu menghubungkan diri yaitu Atma dengan Paramatma dalam hidupnya untuk mencapai Moksa. Pandita lebih menyatakan bahwa kewajibannya untuk meningkatkan pengetahuan suci dalam hidupnya. Sedangkan Sadhaka sendiri mencerminkan bahwa dia mempunyai kewajiban untuk melaksanakan sadana dalam menempuh kehidupannya.

 

Dalam Pustaka Widhi Sastra Roga Sanghara muncul istilah Bujangga sama dengan pengertian Sadhaka. Bujangga mencerminkan sebagai kewajibannya sebagai pemuja Ananta Bhoga pada wilayah Sapta Patala soring Hari Bhawana.

 

Dalam Pustaka Raja Purana timbul istilah Siwa, Bhoda, Sengguhu, Dukuh. Siwa mengisyaratkan bahwa Sadhaka itu sebagai pemuja Siwa dan Bhoda sebagai pemuja Bhuda. Sengguhu sebagai Sadhaka yang menjalankan kewajiban sebagai pembina masyarakat. Sedangkan Dukuh  menekankan pada kehidupan yang cendrung kepada kesunyatan. Sementara Siwa, Sogata, dan Rsi menunjuk kepada kelompok Sadhaka dalam kesatuan tiga yang populer dengan sebutan Tri Sadhaka.

 

Menurut Babad Dalem muncul istilah Pandhya, Mpu dan Danghyang. Selain istilah-istilah yang sudah dikenal. Dengan Pandhya dimaksudkan sebagai Sadhaka yang menguasai pengetahuan kerohanian. Mpu menekankan pada kedudukannya sebagai pengemban masyarakat. Sedangkan Danghyang dimaksudkan sebagai Sadhaka yang punya kedudukan terhormat berkat penguasaan tentang kerohanian yang tinggi.

 

Dalam Pustaka Dwijendra Tatwa timbul istilah Padanda dan Bhagawan disamping yang lainnya. Dengan Padanda dimaksudkan Sadhaka yang bertongkatkan Sastra. Sedangkan Bhagawan dimaksudkan sebagai Sadhaka yang mampu mencapai kebahagiaan berkat penguasaan kerohanian yang tinggi.

Sumber : Makalah Ida Padanda Nabe Gede Putra Sidemen Dharma Upapati PHDI Provinsi Banten.

Advertisements

Sang Kawi

Sang Kawi artinya sang Pencipta. Ia adalah sebutan untuk Ida Sang Hyang Widhi, tapi juga untuk seorang pengarang (Jawa Kuna),  pengarang karya sastra kakawin. Banyak karya sastra yang lahir dari tangan para Kawi itu, mulai dari kakawin Ramayana, Arjunawiwaha, Bharatayudha, Hariwangsa, Gatotkacasraya, Semaradhana, Sutasoma, Arjunawijaya, Bhomantaka, Siwaratrikalpa, Nagarakretagama dan sebagainya.

Dan Sang Kawi bernama Yogiswara, Mpu Sedah, Mpu Panuluh, Mpu Kanwa, Mpu Dharmaja, Mpu Monaguna, Mpu Triguna, Mpu Tantular, Mpu Tanakung, Prapanca, Mpu Nirartha, dan yang lain, nama-nama penuh makna.

Sang Kawi adalah hamba keindahan, yang biasa berkeliling mencari Dewa Pujaannya itu (Istadewata). Ia mencarinya di pantai, di gunung, di hutan dan juga di dalam hatinya. Sang Dewa yang lalu dihadirkannya dan diistanakannya dalam padma hatinya dan juga dalam karya sastranya, dalam kalamnya dan juga dalam debu goresan kalamnya, dalam  bunga yang kesepian di tepi pantai, di pasir putih tepi pantai, dalam dengusan ombak membentur karang, dan di goa-goa larang itu sendiri …………..

Continue reading

Penciptaan Dunia

Pada awal tidak ada lahir dan mati, demikian juga siang dan malam. Pada waktu itu hanya ada Tama (kegelapan). Setelah itu Tuhan melaksanakan tapa (Yajna) untuk mengevaluasi Rta (hukum abadi) dan Satya (kebenaran). Pertama-tama tercipta air. Disanalah telur Hiranyagarbha berada (Hiranya berarti emas Garbha berarti kandungan), yaitu sebuah telur yang berwarna seperti emas. Baca Brahman Dalam Wujud Brahma

Telur Hiranyagarbha mengapung di atas air, yang kemudian berubah menjadi prathivi (bumi) dan angkasa. Setelah diciptakannya prathivi lalu diciptakanlah tumbuh-tumbuhan (banaspati) kemudian burung-burung, binatang dan manusia. Pada waktu itu Tuhan memberikan ajaran Veda kepada empat Rsi tentang empat Veda. Baca Catur Weda

Sebelum menciptakan dunia, hanya ada Tuhan, tanpa tergantung pada siapapun, yang kemudian mengucapkan “aham bahu syam” yang berarti; saya ingin menjadi banyak. Sejak saat itu mulailah penciptaan dunia oleh Tuhan.

Periode waktu disebut Yuga, terdiri dari : Krita atau Sathya yuga (4×432.000 tahun), Treta yuga (3×432.000 tahun), Dvapara yuga (2×432.000 tahun), Kali yuga (432.000 tahun). Jumlah total dari keempat yuga tersebut adalah Kalpa (4.320.000 tahun). Pada jaman Krita, manusia hidup 4 ribu tahun (ada satu Veda), pada zaman Treta, manusia hidup 3 ribu tahun (Veda ada 4), pada zaman Dvapara manusia hidup 2 ribu tahun (purana-purana), dan dalam zaman Kali, manusia hidup 100 tahun (tantra). Zaman Kali dimulai sejak tahun 3102 SM, perilaku manusia yang homosek, dan terjadi pertengkaran.

Pada akhir Kalpa atau Kali yuga, akan terjadi Pralaya, atau banjar besar. Lalu Kalpa lain akan mulai. Pada waktu Pralaya, Wisnu akan menjadi Avatara kesepuluh dikenal dengan nama Kalki. Sumber sinopsis Agama Hindu, oleh Nyoman Sedana-PHDI Banten. (RANBB)

 

Hari Raya Hindu, Jangan Hanya Sekedar Seremonial

Hari raya Hindu Bali, tiang tekankan pada Bali karena Hindu itu sangat luas dengan kebebasan yang sangat luas dalam menerapkan isi Kitab Suci Weda. Semua jalan menuju pada-Nya, itulah kalimat singkat yang ada dalam ajaran Weda. Hendaknya umat Hindu Dharma sekarang ini tidak hanya menekankan pada  hal-hal upakara dan upacara atau ritus (seremoni) semata, hingga Filsafat dan Susila agama Hindu yang sebenarnya merupakan isi ajaran agama Hindu sering diabaikan. Seakan-akan agama Hindu Dharma kelihatannya sebagai agama upacara semata.

Pada hakekatnya hari raya Hindu mempunyai tujuan ganda yaitu Wahya dan Adyatmika, Sekala dan Niskala, Nyata dan Gaib atau Material dan Spiritual. Sehingga setiap perayaan hari raya hendaknya diikuti kegiatan-kegiatan nyata yang relevan dengan tujuan hari raya tersebut. Hari raya dengan yadnya yang dipersembahkan sebagai alat didaktik metodik pembinaan umat Hindu, yang mengandung unsur-unsur positif dalam berbagai aspek kehidupan.

Hal-hal nyata yang dapat dilaksanakan saat persiapan, pelaksanaan maupun setelah hari raya yang tentunya relevan dengan hari raya tersebut. Berikut contoh hari raya dan kegiatan yang relevan, agar terjadi peningkatan dalam hal pengetahuan Filsafat maupun Susilanya.

Hari Raya Galungan 

Hari raya Galungan dan Kuningan sangat berkaitan dengan kisah kemenangan Dharma, ” Satyam Eva Jayate ” Kebenaran pasti menang ! Hal-hal yang dapat dilaksanakan dalam rangka hari raya Galungan adalah :

  1. Lomba membuat penjor, baik dari segi bentuk, kelengkapan sarana dalam sebuah penjor maupun sejarah, kenapa dibuatnya sebuah penjor.
  2. Lomba membuat lawar, dari segi kuliner bisa dinilai kelezatannya, dari segi Filsafat tentunya diperlombakan dalam bentuk penulisan latar belakang dibuatnya lawar merah dan lawar putih.
  3. Kontes menggambar baik lukisan, wayang, ataupun seni pahat tokoh-tokoh yang berkaitan dengan kisah dibalik hari Raya Galungan seperti Mayadenawa, Dewa Indra, Senjata Dewata Nawa Sanga dan lain sebagainya.
  4. Kontes mebebasan atau membaca sloka Ramayana.

Dewasa ini, ritual upakara dan upacara yang digelar umat Hindu Bali bukan hanya di Bali, namun sudah diseluruh Indonesia. Perkembangannya sangat pesat, sehingga pengetahuan Filsafat agama sangat diperlukan agar terjadi kesamaan persepsi  antara umat Hindu di Bali dengan di seluruh Indonesia lebih-lebih dengan umat Hindu yang berlatar belakang budaya Jawa, Sumatera ataupun Kalimantan. Pembinaan yang dilakukan melalui Dharma Wacana, ataupun seminar-seminar. Umat Hindu Bali seyogyanya meningkatkan pengetahuan Filsafat seperti agama Hindu diluar Bali, seperti Hindu yang berlatar belakang Jawa maupun di India. (RANBB)

Kekuatan Burung Garuda

Semua orang mengetahui bahwa Burung Garuda dijadikan lambang negara oleh bangsa Indonesia. Demikian pula pada sebuah partai pemilu 2014 ini ada lambang partai menggunakan Burung Garuda. Kenapa tidak menggunakan burung pipit ? atau kedis perit, petingan,  bondol ? Burung Garuda memiliki kisah yang melegenda hingga kini, kehadirannya mengguncang dunia hingga ke alam dewata. Sedangkan kedis perit, petingan, bondol ? Belum ada yang menceritakan kisahnya, namun dalam bentuk cerita rakyat dan gegendingan Bali (lagu) sangat populer di pulau dewata. Berikut kisah kelahiran, kekuatan Burung Garuda, kisah warisan budaya leluhur bangsa sendiri, sebuah sumbangsih yang sangat besar pada negara kita, bangsa Indonesia.

Continue reading

Asta Dasa Parwa

Delapan belas Parwa. Kitab Mahabrata terdiri dari 18 parwa atau buku, yaitu :

Adiparwa : Cerita tentang asal-usul keturunan bharata yang merupakan pengantar semua parwa lainnya.

Sabhaparwa : Isinya perjanjian Pandawa dan Korawa tentang perjudian dimana Pandawa menderita kekalahan.

Wanaparwa : Mengisahkan Pandawa dalam pembuangan di hutan.

Wirataparwa : Menceritakan penyamaran Pandawa di Wirata selama setahun. Continue reading

Pengantar Bhima Swarga

Perjalanan Spiritual Bhima Ke Sorgaloka

Sepertinya kita semua perlu menyisihkan waktu untuk merenung, menenangkan diri diantara hingar bingar berita atau informasi yang singgah di ruang-ruang rumah kita. Bayangkan akibat kemajuan ilmu dan teknologi informasi, semua rentang dunia seperti tanpa jarak. Apa yang dibayangkan dan dikhawatirkan orang pada awal abad millenium tiga ini menjadi kenyataan. Teknologi informasi computer, teknologi internet, tidak saja akan meniadakan sekat ruang jagat raya, namun lebih dekat dengan kita, juga mempengaruhi prilaku keseharian umat manusia.
Dalam pergaulan sehari-hari, kita merasakan sangat sukar untuk membedakan yang mana dunia nyata dan mana dunia maya karena batas-batas itu nyaris tiada. Apa yang dulu pernah didogmakan para bijaksana tentang ajaran sekala niskala sudah baur. ini berakibat pula pada perubahan tatanan filsafat, nilai, norma, hukum dan aturan yang selama ini hidup dalam masyarakat.
Norma-norma kepatutan yang sudah berabad-abad dilakoni masyarakat secara turun-temurun, serta yang sudah teruji mampu mewujudkan keharmonisan peradaban dalam konteks Tri Hita Karana ; harmonis dengan Tuhan, dengan alam dan antar manusia, tiba-tiba kandas karena arogansi serta agresifitas teknologi modern seperti telah ‘menjajah’ logika, etika dan estetika masyarakat. Continue reading