Patuturing Yowana; Petuah Untuk Pemuda

Dharma Wacana

Patuturing Yowana

Yg kami hormati, para pembaca, para yowana ring sajebag jagat

Dengan menghaturkan panganjali umat OM SWASTIASTU, ijinkan saya menyampaikan Dharma Wacana melalui blog NakBalibelog ini,

Om Swastiastu

Pertama2 marilah kita panjatkan puja dan puji syukur ke hadapan Ida Sesuhunan kita, atas segala nikmat dan karunia-Nya kita dalam keadaan sehat walafiat.

Kesempatan yang berbahagia ini marilah kita gunakan untuk berbagi ilmu pengetahuan, marilah kita belajar memberi dan menerima, marilah kita belajar karena pada intinya hidup ini adalah untuk belajar dan belajar..

Dengan kerendahan hati, ijinkan kami menyampaikan Dharma Wacana ini, tanpa bermaksud menggurui, nasikin segara ring semeton sane sampun pradnyan parindikan tattwa, susila utawi upakara, tiga komponen dasar kita sebagai umat Hindu. Mawit saking manah suci nirmala, titiang naler kari melajahang dewek parindikan napi sane kawedarang titiang mangkin.

Apa yang titiang sampaikan juga menjadi pembelajaran bagi titiang pribadi, semoga idadane berkenan untuk mendengarkan.

Kawitin titiang antuk tembang Kawi, tembang kawyamandala …

 PATUTURING YOWANA

Yayi, yayi, kakanta mojar ring kita

Yayi, yayi, mangke dumateng dadi raki

 

Sewaka mangimba widya

Prasraya uttamaning hurip

Mulat sarira dadi yowana

Suksma teleng tika jada manusa

 

Ngardi sasana santana

Ajeg kahanan budaya

Yowana ring hastanta kabeh

Sasana bhumi gunarsa winangun.

 

Adikku, adikku, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu

Adikku, adikku, engkau sekarang telah menjadi pemuda

 

Mengabdi untuk ilmu pengetahuan

Hormat-menghormati adalah keutamaan dalam hidup

Pemuda harus sadar akan keadaan dirinya sendiri

Itulah wujud rasa terima kasih yang dalam sebagai manusia

 

Menciptakan generasi berakhlak

Mengajegkan kebudayaan

Wahai pemuda, di tanganmu semua

Keteraturan di dunia dibangun melalui sifat-sifat baikmu.


Ngiring kita bahas satu persatu penjekasan lagu Pituturing Yowana Puniki :

 Sewaka mangimba widya

Mengabdi untuk ilmu pengetahuan

Hidup yang mengabdi kepada ilmu pengetahuan adalah hidup yang paling mulia.

– Pythagoras –

Pythagoras (570 SM – 495 SM), adalah seorang matematikawan dan filsuf Yunani yang paling dikenal melalui teoremanya.

Dewi Saraswati sebagai lambang Ilmu Pengetahuan dan Ilmu Kesucian yang membawa alat musik, genitri, pustaka suci, teratai dan duduk diatas Angsa. Pustaka Suci itu melambangkan sarana untuk mengabdikan ilmu tersebut kepada generasi berikutnya.

Kalau kita kutip dari kitab Canakya Nitisastra IV.15 disebutkan “ Anabhyase visam sastram “ yang artinya Sastra atau ilmu yang tidak diterapkan adalah racun.  Sehingga keutamaan suatu pengetahuan terletak pada aplikasi yang diterapkan dalam kehidupan nyata. Jika suatu pengetahuan tidak diterapkan, maka pengetahuan tersebut tidak memberikan manfaat dalam kehidupan dan masyarakat.


  Mulat sarira dadi yowana

Pemuda harus sadar akan keadaan dirinya sendiri

 Bagaimana kita mulat sarira ? Mulat Sarira artinya mawas diri atau pengendalian diri yaitu dengan jalan introspeksi diri.

mulat sarira bukan sekedar konsep, dogma, atau doktrin agama tertentu, tapi sebuah ajakan bagi seluruh umat manusia untuk “kembali ke akarnya dan menemukan dirimu.”

Banyak orang lebih mudah melihat kesalahan orang lain dibandingkan melihat lebih dalam dirinya sendiri. Ketika hal ini kita sadari, banyak sekali rasanya kita melewatkan setiap detik yang berharga untuk sebuah introspeksi diri.

 Mengutip dari Anand Khrisna, dua aspek bagi mulat sarira. Pertama ialah menemukan diri, dan kedua ialah apa yang hendak Anda lakukan terhadapnya. Kita memahami istilah tersebut, tapi kita tak melakoninya. Ini seperti memegang resep medis di rumah dari seorang dokter ahli, tapi kita tak meminum obatnya.

Marilah mulai saat ini kita Mulat Sarira, Kenali dirimu sebelum engkau mengenali orang lain, karena ketika kita mengenali diri kita, kita akan senantiasa untuk melihat kelebihan dan kekurangan, yang justru merupakan langkah awal bagi kita untuk berbenah.

Dalam Falsafah Jawa, disebutkan “Mulat Sarira Hangrasa Wani. ” Mulat berarti melihat diri sendiri. Sarira berarti badan, tubuh. Hangrasa berarti merasa, sedang Wani artinya adalah berani. Untuk memahami arti kata-kata tersebut, harus dibaca dari belakang, yaitu : berani merasa, melihat diri sendiri. Makna yang terkandung didalam kata-kata tersebut adalah seorang harus bersedia secara terbuka untuk melihat kesalahan yang terjadi dalam dirinya.

———————————————————–

 Ngardi sasana santana

Menciptakan generasi berakhlak

Adalah seorang pemuda/yowana sudah sepatutnya untuk mempersiapkan diri dalam hal menciptakan generasi-generasi berakhlak, yaitu melalui sebuah perkawinan tentunya.

Perkawinan atau wiwaha adalah suatu upaya untuk mewujudkan tujuan hidup Grhasta Asrama. Tugas pokok dari Grhasta Asrama menurut lontar Agastya Parwa adalah mewujudkan suatu kehidupan yang disebut “Yatha Sakti Kayika Dharma” yang artinya dengan kemampuan sendiri melaksanakan Dharma. Jadi seorang Grhasta harus benar-benar mampu mandiri mewujudkan Dharma dalam kehidupan ini. Kemandirian dan profesionalisme inilah yang harus benar-benar disiapkan oleh seorang Hindu, seorang yowana/pemuda yang ingin menempuh jenjang perkawinan.


Idadane Pembaca yang berbahagia,

Ajeg kahanan budaya

Mengajegkan kebudayaan

Kebudayaan yang kita bawa saat ini adalah kebudayaan Bali, Hindu dengan budaya Bali yang sudah diakui di Indonesia.

Mengapa kita perlu ngajegang budaya ? tentunya karena kitalah pemilik budaya tersebut, siapa lagi yang harus mengajeg-kan kalau bukan kita. Orang-orang sudah mengakuinya, bahkan UNESCO sebuah badan PBB yang berkopeten dalam hal budaya pada 2 Desember 2015 mengakui 9 tari Bali sebagai warisan budaya dunia.

Sembilan tari Bali yang ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda Dunia oleh Badan PBB yang membidangi pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaaan itu adalah Tari Barong Ket, Tari Joged Bumbung, Tari Legong Keraton, Drama Tari Wayang Wong, Drama Tari Gambuh, Topeng Sidhakarya, Tari Baris Upacara, Tari Sanghyang Dedari dan Tari Rejang.


Yowana ring hastanta kabeh

Sasana bhumi gunarsa winangun.

Wahai pemuda, di tanganmu semua

Keteraturan di dunia dibangun melalui sifat-sifat baikmu.

Pemuda/yowana memiliki peran yang sangat penting, pemuda memiliki tanggung jawab yang besar, sehingga menjadi pemuda tidaklah mudah.

Dari masa perjuangan kemerdekaan hingga kini peran pemuda Bali sangatlah utama dalam memajukan budaya dan agama.

Di Banjar kita sendiri, peran pemuda sudah jelas kita lihat hasinya. Berdirinya pasraman, Pura ini adalah peran dari generasi2 muda pada jamannya. Demi kemajuan pemuda generasi penerus, para pendiri, sesepuh banjar kita bahu membahu membangun sebuah tempat ini, yang kini menjadi warisan budaya yang harus kita sama-sama lestarikan.


Doa Penutup

Idadane kerama Pembaca yang berbahagia, asapunika yang dapat titiang sampaikan pada malam hari ini, tidak lupa titiang memohon maaf apabila dalam penyampaiannya, wenten sane nenten manut ring kayun, kirang langkungnyane titiang nunas geng rena sinampura, titiang akhiri dengan parama santi

Swasti nirmala santi ring bhumi

Sampurna pwa ikang prani

Tan hana yudha tan hana lara

Mogha siddha mawali ring sanatana.

 

Om Santi Santi Santi Om

Dari Berbagai Sumber Bacaan

Advertisements

Tema Nyepi 2018

TEMA

MELALUI CATUR BRATA PENYEPIAN KITA TINGKATKAN SOLIDITAS  SEBAGAI PEREKAT KEBERAGAMAN DALAM MENJAGA KEUTUHAN NKRI

Umat Hindu di seluruh Indonesia menyambut dan merayakan Tahun Baru Saka yang karena bentuk perayaannya dengan menyepikan diri dari berbagai aktivitas duniawi, kemudian lebih dikenal sebagai Hari Raya Nyepi. Pengheningan diri selama dua puluh empat jam penuh, mematikan segala aktivitas duniawi, merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas sradha (keimanan) guna menemukan jati diri, kesejatian tujuan hidup dan hubungan dengan Sang Diri.

Pengheningan diri ini akan terlaksana sempurna melalui empat brata penyepian yang ditradisikan sebagai amati geni (tidak melakukan aktivitas yang berkaitan dengan api/penerangan), amati lelunganan (tidak bepergian ke luar rumah), amati pakaryan (tidak bekerja) dan amati lelangunan (tidak melakukan aktivitas yang berkaitan dengan hiburan/bersenang-senang)

Pada tahun 2018, Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1940 jatuh pada Saniscara Umanis Watugunung, Sabtu 17 Maret 2018. Sejak Tahun Baru Caka 1 (tahun 78 Masehi) hingga kini, setiap tahun umat Hindu senantiasa diingatkan agar dalam melaksanakan tugas hidup sehari-hari selalu memegang teguh sikap penuh toleransi dan rukun dengan umat agama lain. Dengan demikian tepatlah tema yang diusung pada tahun ini, “MELALUI CATUR BRATA PENYEPIAN KITA TINGKATKAN SOLIDITAS SEBAGAI PEREKAT KEBERAGAMAN DALAM MENJAGA KEUTUHAN NKRI”

Melalui empat brata penyepian yang diamanatkan ini, Nyepi menjadi momentum pengendalian diri agar tidak larut dalam emosi berlebihan di dalam menyikapi situasi dan kondisi kehidupan bernegara dan berbangsa demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Mengenal Alat Musik Bali

BALI, sebagai daerah seni yang tentunya memiliki banyak jenis seni, ada seni tari, lukis, pahat, kerawitan, musik, dan karya seni lainnya. Budaya seni ini telah ada sejak dahulu, dan turun temurun diwariskan kepada kita. Budaya yang sangat erat kaitannya dengan agama Hindu. Ada baiknya kita sebagai generasi penerus untuk mengenal, bahkan menguasai seni-seni tersebut diatas, salah satunya seni musik atau gamelan. Berikut titiang kutipkan beberapa jenis musik gamelan yang kita miliki, yang bersumber dari Kamus Budaya Bali dalam Bidang Musik Tradisional Bali, terbitan Balai Bahasa Denpasar 2008.

Angklung : Klentangan barungan gamelan dari sebelum abad X, berfungsi untuk mengiringi upacara pembakaran mayat, instrumentnya tertdiri atas pamade, reyong, kendang,klentangan, kajar, suling, jegogan, calung, dan cengceng, dimainkan dengan laras slendro. Continue reading

Jenis Banten Caru

Jenis Banten Caru

a. Purwa (Timur)

Sapi Godel, Sata Putih Mulus, magenah kangin, wilulangania melayang-layang winangun urip, dagingnia ingolah den  jangkep, jatah bayuhan, ketengan, nuhut urip (5), Bakaran (1), Cautumpuk, Keben-kebenan, Kuwangen, Tulung metangga untuk  Sapi Godel dan Tulung Sangkar untuk Sata. Sengkwi Garuda untuk Sapi Godel dan Sengkwi maikuh untuk Sata, Suci Laksana untuk Sapi Godel dan Suci Alit untuk Sata. Pras Daksina, Ajuman, Ketipat Kelanan, Canangsari. Nanceb Sanggar Cukcuk. Duwegan manut urip (5) antuk Kelungah Nyuh Bulan.

b. Daksina (Selatan)

Continue reading

IDA PEDANDA SE NUSANTARA ; PARUMAN AGUNG DHARMA GHOSANA

SEKITAR 300 IDA PEDANDA SE NUSANTARA AKAN HADIRI PARUMAN AGUNG DHARMA GHOSANA PUSAT DI GUNUNG SALAK

Bogor, – Sekitar 300 Ida Pedanda Siwa-Budha se Nusantara akan menghadiri Paruman Agung Dharma Ghosana Pusat pada hari Sabtu, tanggal 15 Juli 2017 di Wantilan Parahyangan Agung Jagatkartta, Gunung Salak, Bogor.

Ketua Panitia Pelaksana, Ida Bagus Djayapati menjelaskan, Paruman atau pertemuan tahun ini mengetengahkan  Tema:  “Melalui paruman Dharma Ghosana Pusat kita tingkatkan peran warih Ida Bhatara Lelangit dalam pengembangan Hindu Nusantara”.

Paruman seperti ini lebih bertujuan pada penyamaan visi dan misi dalam implementasi kitab suci Weda melalui peningkatan penyebarluasan kualitas tatwa, susila dan upakara.

Pada saat pembukaan Paruman yang juga akan dihadiri sekitar 500 orang dari unsur Welaka dan undangan tersebut akan dimeriahkan dengan kidung Dang Hyang Dwijendra Stawa yang akan dibawakan oleh Ida Bagus Made Ariadi dan kecapi suling Sunda Wiwitan.

Paruman Agung akan dibuka oleh Ketua Dharmopadesa Pusat Ida Pedanda Jelantik Duaja dan dihadiri pula oleh Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI, Prof.Dr. I Ketut Widnya serta Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat, Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya.

Selama Paruman Agung Dharma Ghosana akan dibahas materi tentang Prasetya perkawinan dlm wiwaha Samkara oleh Ida Pedanda Gde Panji Sogata dan Pawiwahan dalam Teks Rsi Sasana oleh Ida Pedanda Gede Wayahan Keniten.

Sementara itu, dalam paruman dari unsur Walaka berupa paruman dharma prawerti sabha akan diseminarkan masing masing tentang perkembangan Hindu Nusantara oleh DR Ida Bagus Putra dan tentang Hindu Nusantara dalam perspektif sosio kultural oleh Prof Dr Ida Bagus Yudha Triguna dan dengan moderator Ida Bagus Alit Wiratmaja SH MH.

Paruman ini akan diakhiri dengan penjelasan tentang Yayasan Dharmopadesa Pusat oleh Ida Bagus Agung Partha Adnyana dan tentang organisasi Dharmopadesa Pusat oleh Ida Bagus Gede Sidharta Putra.

Paruman Agung seperti ini dilaksanakan setiap Sabtu Umanis Wuku Bala setiap 210 hari sekali, dimana tahun lalu berlangsung di Klungkung dan berikutnya akan dilaksanakan di Bangli, Bali. (*).

Sumber : http://www.hindubanten.com/

Puja Tri Sandhya (Sumber Teks, Terjemahan dan Pemahamannya)

_pandejuliana_

Sumber Teks, Terjemahan dan Pemahamannya.

Ada beberapa saudara kita yang belum tau, menanyakan sumber teks mantram Tri Sandhya, apakah karangan dari tokoh agama kita atau memang ada di dalam kitab suci Weda? Seperti yang diketahui bahwa mantram Tri Sandhya yang tersusun sdemikian rupa ini hanya ada di Indonesia, sedangkan di India tidak ada. Dalam mantram Tri Sandhya (6 bait) yang banyak orang kenal adalah bait pertama yaitu mantram Gayatri yang bersumber dari kitab suci Rg.Weda III.62.10. Lalu, bagaimana dengan 5 bait yang lainnya? Seperti halnya bait pertama, bait ke-2 sampai dengan bait ke-6 juga bersumber dari kitab suci Weda. Bait ke-2 bersumber dari Narayana Upanisad 2, bait ke-3 berasal dari Sivastava 3, dan bait ke 4-6 adalah sama yaitu bersumber dari Ksamamahadevastuti 2-5. Mari kita bahas satu persatu.

Puja Tri Sandhya merupakan ibu mantra dan intisari dari seluruh mantra-mantra Weda yang mampu membawa umat manusia menuju ke arah kehidupan yang…

View original post 1,504 more words

Pengertian tentang Diksita, Wiku Dan Sadhaka

Pengertian tentang Diksita, Wiku atau Sadhaka

Menurut Pustaka Bhuwana Kosa bahwa kata sepadan dengan Diksita atau Sadhaka itu adalah Wiku. Wiku guna menunjukkan kewajiban dalam memelihara kesucian hati. Rsi mencerminkan kewajiban dalam memelihara sinar suci dalam dirinya. Yogiswara menunjukkan bahwa dia mampu menghubungkan diri yaitu Atma dengan Paramatma dalam hidupnya untuk mencapai Moksa. Pandita lebih menyatakan bahwa kewajibannya untuk meningkatkan pengetahuan suci dalam hidupnya. Sedangkan Sadhaka sendiri mencerminkan bahwa dia mempunyai kewajiban untuk melaksanakan sadana dalam menempuh kehidupannya.

 

Dalam Pustaka Widhi Sastra Roga Sanghara muncul istilah Bujangga sama dengan pengertian Sadhaka. Bujangga mencerminkan sebagai kewajibannya sebagai pemuja Ananta Bhoga pada wilayah Sapta Patala soring Hari Bhawana.

 

Dalam Pustaka Raja Purana timbul istilah Siwa, Bhoda, Sengguhu, Dukuh. Siwa mengisyaratkan bahwa Sadhaka itu sebagai pemuja Siwa dan Bhoda sebagai pemuja Bhuda. Sengguhu sebagai Sadhaka yang menjalankan kewajiban sebagai pembina masyarakat. Sedangkan Dukuh  menekankan pada kehidupan yang cendrung kepada kesunyatan. Sementara Siwa, Sogata, dan Rsi menunjuk kepada kelompok Sadhaka dalam kesatuan tiga yang populer dengan sebutan Tri Sadhaka.

 

Menurut Babad Dalem muncul istilah Pandhya, Mpu dan Danghyang. Selain istilah-istilah yang sudah dikenal. Dengan Pandhya dimaksudkan sebagai Sadhaka yang menguasai pengetahuan kerohanian. Mpu menekankan pada kedudukannya sebagai pengemban masyarakat. Sedangkan Danghyang dimaksudkan sebagai Sadhaka yang punya kedudukan terhormat berkat penguasaan tentang kerohanian yang tinggi.

 

Dalam Pustaka Dwijendra Tatwa timbul istilah Padanda dan Bhagawan disamping yang lainnya. Dengan Padanda dimaksudkan Sadhaka yang bertongkatkan Sastra. Sedangkan Bhagawan dimaksudkan sebagai Sadhaka yang mampu mencapai kebahagiaan berkat penguasaan kerohanian yang tinggi.

Sumber : Makalah Ida Padanda Nabe Gede Putra Sidemen Dharma Upapati PHDI Provinsi Banten.