Creator dan Publisher

Sekali-kali jadilah Sang Creator, tidak melulu menjadi Publisher dan Buzzer …

Semua orang tahu apa itu creator, ya orang yang meng-creat sesuatu dan dapat akhiran -or menunjukan orang atau si pelakunya. Jadi creator adalah pembuat sesuatu, pelaku dari sesuatu hingga terbentuk sesuatu pula. Creator itu kreatif, imajinatif, produktif. Sang pembuat biasanya orang yang kreatif karena punya pemikiran (imajinasi) yang unik dan menarik, sehingga akan menjadi produktif (menghasilkan sesuatu). Orang Bali Kreative

Orang Bali umumnya sudah menjadi Creator, utamanya bidang seni. Jangan ditanya lagi kemampuan seni orang Bali itu. Dunia sudah mengakuinya. Bukan baru jaman internet ini saja, tetapi sudah sejak awal dikenalnya informasi media. Bali sudah terkenal akan seni dan budayanya.

Namun dibidang yang lain, orang Bali terkenal hanya sebagai publisher (tukang sebar) dan hanya Buzzer (tukang hembusin). Bidang apa itu? Orang Bali tidak banyak yang creat tulisan-tulisan, orang Bali tidak banyak yang membuat artikel-artikel. Jangankan artikel panjang yang bermanfaat,  yang pendek namun bermanfaat saja jarang, bahkan sangat jarang.

Dapat kita lihat di Medsos, dalam satu hari saja berapa artikel pendek yang kita dapatkan ? Entah itu motivasi, provokasi, edukasi, ekonomi, pencerahan, dan berbagai artikel pendek lainnya. Kebanyakan sang kreatornya adalah orang-orang diluar kita, orang Bali sangat jarang. Tetapi herannya, justru kita sangat sering menjadi publisher (tukang sebar-sebarin), tukang buat viral.

Dan anehnya lagi, bila di sebar (share) dalam grup Medsos, artikel orang itu dibahas panjang lebar, ada yang mengkritik dengan pedas, keras, penuh argumentasi sana-sini. Ya hanya dalam grup ini, seperti katak dalam tempurung, bersuara keras hanya yang mendengar dirinya sendiri. “Yen cara Baline, cicing galak jumah, yen pesu bungker ikutne “

Terkadang lucunya, karena membahas artikel pendek di Medsos, dengan segala argumentasinya, hingga left grup, neked di Pura sing mase nyak metakon… Alangkah Lucunya Orang Bali.

Itulah peran tulisan, peran artikel, jangan meremehkan sebuah tulisan. Kemampuan sang Creator sangat berperan dalam menghasilkan tulisan yang mampu untuk mempersatukan kehidupan manusia, atau sebaliknya mampu memecah belah kita. Ayo menulis untuk kebersamaan umat. (Rare Angon Nakbalibelog)

Geginane Buka Nyampat Anak Sai Tumbuh Luu

Nyen sing taen ningehang gending nak Bali ” Geginane Buka Nyampat Anak Sai Tumbuh Luhu” . Selanturnyane “Ilang Luhu Buke Katah Yadin Ririh Liu Enu Paplajahan” . Niki sebenarnya yen cara Baline marupa Gaguritan nganggon Pupuh Ginada. Nike kan bagian akhir dari Geguritan selengkapnya sekadi puniki “Ede Ngaden Awak Bisa Depang Anake Ngadaning … Geginane Buka Nyampat Anak Sai Tumbuh Luhu, Ilang Luhu Buke Katah Yadin Ririh Liu Enu Paplajahan”  Ngiring Megending Bali Iriki

3D Rumah Tinggal

RumahTinggal

Rage Nak Bali Belog mula tusing bisa matembang, salingke mageguritan, megending gen munyine bero ( cara munyin gong sing patuh baan nepak ). Nah kanggoang seni ane lenan pelajahin. Yen di Bali anake ngorahang Gumi Seni, makejang anak Bali orangine Seniman. Nyake petani, pegawai, Balian Sakti, Gubernur, pastika nawang seni. (Pastika nika pasti hehehe… bukan Mantan Gubernur Bali; Mangku Pastika).

Kewala jani anak sukeh dadi Seniman, antara kebutuhan hidup dan kewajiban agama, minab keperluan lebih tepat anggon nganti kata kebutuhan, pang sing salah memahami, kebutuhan asal kata “butuh”. Hanya orang Bali yang suka kebutuhannya kecil pang anune gede … nah intermeso pang sing setress kalah pilkada. Kembali ke Seniman yang memiliki dilema antara kebutuhan hidup (keperluan hidup) dan kewajiban dalam menjalankan agama Hindu yang berbudaya, tepatnya seni budaya.  Irage kanggoang Seniman3D

Wantilan Ring Gunung Salak

Rencana Wantilan Gunung Salak

Selama iraga bisa membedakan mana kebutuhan dan mana kewajiban, tentunya tusing lakar irage sukeh, bingung utawi setress … Rage Nak Bali Belog Geginane Buka Nyampat, sabilang wai maang Ngambar Umah 3Dimensi. Di saat berbeda juga diwajibkan untuk ngaturangayah anggen wewangunan di Pura menakadi Pasraman, Wantilan tur sane tiosan.

Nah amonto malu Geginane anake nulis di Blog Gratisan puniki, ne luungne ngelah Blog, be tusing mayah, irage bisa terkenal, maan pipis uli adsense Blog, ne Klik Buktine. Mai nae Ngeblog Pangsing Belog.

BUTUH TENAGA DRAFTER 3D ?

Cepat Murah Berkualitas

Segera Hubungi Eben3d Impressions

No HP /WA: 0812 9489 4000

Email : sobat_lama007@yahoo.com

Blog : http://eben3d.blogspot.com

Filosofi Menggali Sumur Dalam Belajar Agama

Belajar agama dapat diibaratkan seperti menggali sebuah sumur. Banyak orang bangga dan terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan sesaat setelah sumur yang mereka gali sudah mendapatkan air. Dangkal, bahkan sangat dangkal, namun mereka sudah menyombongkan diri sebagai orang yang bisa bicara agama, bisa men-Dharma Wacana-kan, men-siar-kannya. Sumur yang dangkal hanyalah air permukaan yang masih tercampur dengan air comberan got rembesan “saptic tank” sehingga tidak jarang orang-orang yang bicara agama dengan ilmu yang dangkal sama seperti comberan, mulut comberan bau kotoran. Mirip Blog ini.

Galilah lebih dalam sumur anda, pelajarilah lebih dalam agama anda sebelum berbicara tentang kejernihan air sumur anda, tentang kemurnian agama yang anda anut. Tak perlu untuk buru-buru bicara sebelum tahu persis bau mulut kita sendiri yang masih berbau comberan akibat air sumur yang dangkal, akibat dari pengetahuan kita mengenai agama masih dangkal. Beranikah anda menggali sumur lebih dalam dan dalam lagi ? Beranikah anda untuk belajar tentang agama lebih dalam lagi ? Kembali kepada egoisme anda saat ini, saat egoisme sudah menguasai sulit rasanya anda untuk belajar agama lebih dalam, sulit untuk mendapatkan air yang jernih tanpa bau comberan. Mirip Blog ini.

Baca Juga : Jangan Belajar Agama di Internet.

Menggali sumur ada seninya, ada usaha kerja kerasnya, ada pengorbanannya, ada ketabahannya, ada keikhlasannya dan ada pula rasa jenuh untuk menggalinya. Demikian pula dalam belajar agama, ada seninya, ada usaha yang harus dilakukan, ada kegembiraan, ada kebanggaan yang dalam saat-saat menemukan kemurnian pengetahuan tersibak diantara bebatuan, setelah anda berusaha menggali untuk mendapatkan sumber air yang pertama. Sumber air pada permukaan yang dangkal jadikanlah sebagai pemacu semangat untuk mendapatkan air yang lebih jernih lagi. Pengetahuan awal tentang agama jadikanlah sebagai dasar yang kuat untuk mendalami pengetahuan agama yang lebih tinggi. Cukup rasakan dahulu sendiri air dari sumur anda, tak perlu untuk di-siar-kan ke tetangga, bahwasanya air anda sudah jernih, bahwasanya agama anda itu sudah menyejukkan. Rasakan hingga benar-benar kita merasa sehat, tidak mual karena bau comberan, rasakan jiwa kita mendapat ketenangan tidak menyebabkan tetangga kita merasa “mual” melihat kelakuan anda beragama. Mirip Blog ini.

Kita harus berani menggali lebih dalam galian sumur untuk mendapatkan kemurnian air, kita harus berani memperdalam pengetahuan agama agar memperoleh kemurnian agama itu sendiri. Belum terkontaminasi dengan air comberan bekas cucian orang, atau air rembesan penampungan kotoran orang, pengetahuan agama yang kita pelajari bukan hasil penafsiran dari penafsiran yang ditafsirkan orang. Cobalah gali sendiri hingga lebih dalam, sehingga kita mendapatkan air dari sumber yang lebih dalam sehingga menjadi lebih jernih, dan baunya berkurang. Pelajarilah pengetahuan agama dari berbagai sumber menuju sumber yang lebih dalam (filsafat) hingga kita dapat memahami lebih pada pengetahuan agama itu. Mirip Blog ini.

Baca Juga : Belajar Nge-Leak Mengasikkan

Belajar sejarah agama menjadi penting bagi orang yang ingin memperdalam agamanya. Sejarah, sesuatu yang benar-benar terjadi yang tercatat oleh alam, terekam dalam bentuk-bentuk yang unik oleh alam, tersimpan rapi dalam lapisan-lapisan tanah sumur yang kita gali, dalam lembaran-lembaran buku yang kita pelajari. Setiap lapisan tanah menyimpan sejarah dari sebuah episode peradaban dan akan menuju pada satu titik peradaban yang sama, setiap sumber ilmu pengetahuan agama yang dipelajari akan menuntun kita pada sumber yang sama. Beranikah kita untuk mempelajari sejarah agama kita ? Beranikah kita mengetahui dari mana sumber kita sebenarnya ? Peradaban adalah guru yang menuntun kita dalam mendalami agama, peradaban menunjukkan bagaimana kejernihan yang sebenarnya dari ilmu pengetahuan yang kita pelajari saat ini dan kita akan mendapat jawaban atas pertanyaan, dari mana sumber ilmu pengetahuan itu sebenarnya ? Mirip Blog ini.

Orang yang masih dikuasai egoisme, akan berhenti pada penggalian sumur pertama saat ia menemukan sumber air, tak peduli apakah air itu bau comberan, bau kotorannya sendiri atau terkontaminasi zat kimia beracun lainnya. Menikmati air yang terkontaminasi sama saja dengan mengendapkan racun pada badan kita, belajar agama dari sumber dengan pengetahuan yang dangkal, sama saja dengan menjerumuskan jiwa kita ke dalam kesengsaraan. Apalagi air sumur yang dangkal, tidak kita jernihkan dengan penyaringan-penyaringan, diendapkan kotorannya, demikian juga pengetahuan yang kita terima tanpa ada pemahaman-pemahaman secara bertahap pada intelektual kita, kemudian ke nalar hingga kepada hati sanubari kita sebagai penentu kebijaksanaan yang paling utama. Akan sangat berbahaya bila belajar agama tanpa menggunakan hati sanubari, tak ubahnya anda adalah sebuah mesin robot yang hidup tetapi tidak memiliki perasaan. Mirip Blog ini.

Baca Juga : Pengetahuan Versus Kebodohan

Okelah … kita belajar agama untuk masing-masing tujuan yang berbeda-beda, untuk ekspresi jiwa yang tidak sama, untuk duniawi atau untuk alam sana. Namun bila mau sedikit saja anda membuka hati sanubari anda dalam belajar agama, maka yang menjadi tujuan belajar agama tidak lain adalah untuk kebahagiaan duniawi dan akhirat. Kebahagiaan dunia kebahagiaan semua orang, tetangga, teman, kerabat dan segala sesuatu diluar diri anda. Kebahagiaan Sorga yang kita kejar tak akan tercapai bila anda menciptakan kesengsaraan di dunia ini, sebab kesengsaraan yang anda ciptakan melekat pada jiwa anda, jiwalah yang menuju pengadilan akhirat, jiwalah yang akan menjadi saksi di akhirat. Masihkah anda bisa berbohong dihadapan Sang Pengadil ?

Hanya Sebuah Opini, untuk Introspeksi Diri Rare Angon Nak Bali Belog

 

ҪUBHA – AҪUBHA KARMA

Ҫubha  Aҫubha =  Ҫubha + Aҫubha

Ҫubha Karma = perbuatan yang baik, sesuai dengan Dharma

Aҫubha Karma = perbuatan yang tidak baik (jahat), sesuai dengan A-dharma

Ketentuan mengenai baik dan buruk ini telah dinyatakan dalam Ajaran Weda Smerti, Tata Susila (Etika Agama).

Weda merupakan tolok ukur, kriteria batu penguji mengenai perbuatan baik maupun buruk. Kita diwajibkan, bahwa diharuskan untuk berbuat Ҫubha Karma, tetapi sebaliknya kita harus menjauhkan diri dari perbuatan Aҫubha Karma.

Artikel Terkait Subha Asubha Karma :

Baik buruk perbuatan ini akan menentukan pahala yang akan diterimanya. Kalau kita menginginkan kehidupan yang suka atau bahagia, hendaknya ditentukan dari sekarang yaitu dengan jalan melaksanakan Ҫubha Karma. Dengan ringkas dapat dikatakan, bahwa sasaran Ҫubha Karma ialah Surga dan terakhir Moksa, sedangkan sasaran A-ҫubha Karma ialah neraka yang penuh penderitaan atau kesengsaraan. Sesungguhnya tinggi rendah derajat seseorang ditentukan oleh baik buruk perbuatannya sendiri, sesuai dengan benih yang ditabur, demikianlah yang akan diterimanya. Karena Karma itu meliputi pikiran, kata-kata serta perbuatan, maka kita hendaknya melaksanakan dasar pokok Ҫubha Karma, yaitu TriKaya Pariҫuddha (Tiga bagian badan yang patut dibersihkan/disucikan) :

 

  1. Kayika Pariҫuddha : Suci/benar dalam perbuatan
  2. Wacika Pariҫuddha : Suci/benar dalam kata-kata
  3. Manacika Pariҫuddha : Suci/benar dalam pikiran.

 

Dalam Sarasamuccaya 7 :

“Sebab kelahiran menjadi manusia sekarang ini adalah kesempatan melakukan kerja baik sataupun kerja buruk, yang hasilnya akan dinikmati di akhirat, artinya kerja baik ataupun kerja buruk sekarang ini di akhirat sesungguhnya dikecap akan buah hasilnya itu, setelah selesai dinikmatinya, menitislah pengecap itu lagi, maka turutlah bekas-bekas hasil perbuatannya itu, Wasana disebut Samgskara, sisa-sisa yang tinggal sedikit dari bau sesuatu yang masih bekas-bekasnya saja, yang diikuti (peng) hukumannya itu jatuh dari tingkatan Sorga maupun dari Kawah Neraka; adapun perbuatan baik atau buruk yang dilakukan diakhirat, tidaklah itu berakibat sesuatu apapun, oleh karena yang sangat menentukan adalah perbuatan baik atau buruk yang dilakukan sekarang juga.” Continue reading

Catur Marga Yoga atau Catur Yoga

Catur Marga Yoga atau Catur Yoga

            Catur Marga Yoga berarti empat jalan untuk mempersatukan Atman dengan Brahman, terdiri dari pada :

  1. Jnana Marga Yoga (Jnana Yoga)
  2. Karma Marga Yoga (Karma Yoga)
  3. Bhakti Marga Yoga (Bhakti Yoga)
  4. Raja Marga Yoga (Raja Yoga)

 Adapun uraian Catur Yoga yaitu :

Jnana Marga Yoga (Jnana Yoga) : ialah jalan untuk dapat mempersatukan Atma dengan Brahman (Tuhan) berdasarkan kebijaksanaan atau pengetahuan inti hakekat filsafat (Tattwa), kerohanian, keparamarthan. Para Jnanin (Bijaksanawan) dapat menguasai dua macam pengetahuan; Apara Widya (ilmu pengetahuan biasa) dan Para Widya (ilmu pengetahuan tingkat tinggi), mengikuti hakekat Atma dengan Brahman.

 Bhagawad Gita XIII.26 :

“Mahluk apa saja yang lahir, bergerak atau tidak bergerak, O, Arjuna, adalah muncul dari persatuan antara lapangan (ksetra) dan yang mengetahui lapangan (ksetrajna).”

 “Mereka yang melihat dengan mata pengetahuannya perbedaan antara lapanga (ksetra) dan yang mengetahui lapangan (ksetrajna) dan pembebasan mahluk dari alam (prakreti), mereka mencapai Yang Maha Tinggi.”

 “Persembahan korban berupa pengetahuan adalah lebih agung sifatnya dari korban benda yang berupa apapun juga, O, Arjuna, sebab segala pekerjaan dengan tak terkecualinya memuncak di dalam kebijaksanaan.”

 Bhakti Marga Yoga (Bhakti Yoga) : ialah jalan untuk mempersatukan antara Atman dengan Brahman berdasarkan Satya yang murni, cinta kasih (kasih sayang) yang tulus ikhlas terhadap Tuhan (Sang Hyang Widdhi) tidak menghitung-hitung untung-rugi, hidup-mati, pasrah dengan bhakti suci berkesadaran tinggi kehadapan Tuhan.

        Seorang Bhakta  yang kuat bathinnya melaksanakan baktinnya akan dapat mencapai kesempurnaan, kebahagiaan yang kekal abadi.

Bhagawad Gita XII.2 : Continue reading